JavaScript: ERESOLVE unable to resolve dependency tree

Saya sudah mencari semuanya dari akun-akun dan jawaban-jawaban pada npm erorr code ERESOLVE di postingan akun aminrd1. Kecuali, jawabannya dari akun Lin Du2 :

Vitest baru version 2.0.5 per-12 Agustus 2024

$ npm view vitest version

vitest baru adalah version 2.0.5, seharusnya downgrading vitest version 1.6.0

vitest saya adalah version 1.6.0 dan memuat ketergantungan rekannya di file package.json

$ npm view [email protected] peerDependencies

downgrading vitest version 1.x.x

$ npm view vitest@1 version

$ npm install vitest@^1.6.0 @vitest/ui@^1.6.0 -S

Sukses.

Ingat, memuat ketergantungan rekannya vitest version 2.0.5 ke version 1.6.0 dan @vitest/xxx^1.6.0 di file package.json.

  1. aminrd stackoverflow.com ↩︎
  2. Lin Du stackoverflow.com ↩︎

Sesal

aku datangi sore itu
sambil menyekat lelah yang
sedari tadi bergelayut membisu

di sebuah telaga
ada pohon dengan bangku kayu yang biasanya
kau duduk disitu

dimana kamu?
apa aku terlambat?
apa aku benar-benar, sedang mengharapkan sesuatu?

aku tidak segera melihat jam disakuku
sebab terus menerus bertanya waktu
adalah ciri untuk orang yang lemah

aku duduk, terdiam dan menunduk
ragaku berjalan seketika
dalam ruang dimensi terhenti, aku
lihat sekumpulan mimik layu

ku hampiri,
menyapu wajah masam itu
satu per satu

“dia sudah cukup lama disitu”
kata seorang dari mereka
“dia lelah menunggu, lantas dari itu berlalu”
kata seorang yang lain

baru kemudian aku sadar
wajah masam itu, egaliter, adalah aku
penyesalan berbentuk wajah-wajah,
tak menyenangkan

dia telah lama pergi
hingga telaga kini jadi sepi
namun seterusnya sore aku kembali
;duduk terpatri tapa Subali

pengabaian menjadi kesalahan
bagi sebagian kecil orang;
yang selalu menuai penyesalan
diakhir cerita juang;

Ocki Bagus Pratama
Malang, April 2016

Ilustrasi Pexels Free Photos

tentang ego yang tanpa tepi

dingin menyapa di penghujung musim
aku sendirian malam ini,
menarik selimut sambil terus berpuisi
sesekali menggumam tentang ego yang tanpa tepi

sebentar lagi hari berganti pagi
aku harus lebih menghangat diri
tidak cukup hanya selimut sampai mata kaki
alangkah indahnya jika tidak sendiri

Ocki Bagus Pratama
Malang; malam 22:33, 19 November 2017

Ilustrasi Pexels Free Photos

Dalam Kenang

pagi buta; diantara bingar obrolan
sahabat makan; angin bertiup kencang
ku sibuk dalam kesunyianku,
sendiri, dalam kenang

aku lihat kamu
samar bayangan dirimu
disinari sapta sang rembulan
melambai, melempar senyum

manis sekali

segera kulafalkan sebuah nama
teriak aku pada semesta
suaraku hilang
suaraku teredam

sunyi merambat secepat cahaya
beranjak aku dari kursi dunia
menuju luasnya jagad raya
mengecup bayang diatas sana

ku lompati jendela diujung semesta
aku kembali ke kursiku semula

***

apakah kita sedang memandang,
hamparan langit yang sama?

Ocki Bagus Pratama
Malang, 2015

Ilustrasi Pexels Free Photos

MENGINGAT TIGA SAJA

waspadalah kepada aku yang
ketika gelisah dilanda kesunyian
namun tidak menghasilkan bait-bait puisi

biarkan aku berdiam diri!
atau terkutuk lah, persetan!
beri aku ruang mengingat tiga saja
sambil mengukur jarak antara aku
;dan kamu

apa senja itu masih saja sama;
lengkung cakrawala, spektrum warna
dibatas horizon peristiwa kita?

pada malam,
apa taman itu masih saja remang
hingga gerak kita dikaburkan bayang;
seperti terakhir kita sama-sama pulang?

apa pundak kita masih saja basah
pada hujan rintik-rintik; dibawah payung mu
yang meneduhkan itu?

aku memilah jawaban mu sendiri
aku terjebak di dalamnya
;aku menikmatinya

namun ingatan itu, kesunyian itu tetap
tidak menghasilkan bait apa-apa
kosong tanpa gema

puisi ini pun kubuat
pada kesunyian lain
; sesudahnya

Ocki Bagus Pratama
Malang, 16 Mei 2017

Sesal (2)

/1/
aku datangi sore itu
sambil menyekat lelah yang
sedari tadi bergelayut membisu

di sebuah telaga
ada pohon dengan bangku kayu yang biasanya
kau duduk disitu

/2/
dimana kamu?
apa aku terlambat?
pun sekadar membuktikan jauh di dasar hati
bahwa sebenarnya aku peduli?

aku tidak segera melihat jam di sakuku
sebab rasanya tak pantas terus bertanya waktu
bagi orang yang tak tahu waktu

/3/
menyender pohon, gemetar
akal sehat ku mati, aku terjebak diri
dalam ruang dimensi terhenti, aku
lihat sekumpulan mimik layu

ku hampiri,
menyapu wajah masam itu
satu per satu

“dia sudah cukup lama disitu”
kata seorang dari mereka
“dia lelah menunggu, lantas dari itu: berlalu”
kata seorang yang lain

/4/
baru kemudian aku sadar
wajah masam itu, egaliter, adalah aku
penyesalan berbentuk wajah-wajah,
tak menyenangkan

aku coba mengemis masa itu
meski tahu waktu selalu berjalan maju
dia tidak pernah datang lagi
dia telah benar-benar pergi

anggap saja,
aku menghukum diri dengan sepadan
sebab pengabaian ini sungguh keterlaluan
ini pun ku sadari belakangan​
ketika ia benar-benar hilang.

Ocki Bagus Pratama
Malang, April 2016

Ilustrasi Pexels Free Photos

bibit itu yang
kita pupuk bersama-sama
pernah tumbuh dan berbunga

sampai dimana pohon itu
tumbuh menjadi besar
dalam pantauan kita
bersama-sama

dengan sabit kau singkirkan
semua benalu dan rumput liar
sambil menyematkan doa
hingga ia tumbuh sempurna

dan banyak orang dewasa berteduh
sebagaimana anak-anak yang sering
berlarian menangkap bunga
ada juga yang bergelantungan dibawahnya

sebab apa kau putuskan
untuk mencabut sepenuhnya
namun akar telah tumbuh mencengkram
sangat dalam dan kuat

kau terjatuh saat pertama kali coba
melakukannya; aku tidak memaksamu berhenti
sebab ini sudah jalan
yang kau pilih sendiri

hingga akhirnya kau berhasil;
memisahkan yang pernah satu.
meninggalkan yang mencengkram
sebab berada diluar jangkauanmu

yang tersisa dari akar itu
adalah asa
haruskah ku pupuk kembali
hingga menuai duka?

Tribute to R.A,
Princess of Winterfell

Ocki Bagus Pratama
Malang, 10 Mei 2016

Ilustrasi Pexels Free Photos

Bukan lagi seperti kanak
Mulai tampak kini
Cinta yang dulu ku kenal
Mulai rumit `tuk dipahami

Aku coba mengerti kamu
Segala ocehanmu
Tentang aku, yang
Kau anggap binal

COC dan Dota
Hanya itu alasanmu
Sebuah senjata
Memojokkan aku

Lantas kau kirimkan paket
Menuju Malang dari Jogja
Dalam kop surat kau sebut
Dirimu sebagai sahabat saja

Jadi kisah ini berakhir?
Tanganku mengepal
Bingkai foto dilempar
Berserakan diatas lantai

– Tribute to Firlhi Kurniawan

Ocki Bagus Pratama
Malang, 4 Januari 2016

Ilustrasi Pexels Free Photos